Mengapa kaltara perlu ada ? pertanyaan itu seharusnya dijawab oleh para pejuang berdirinya Kaltara. Karena pertanyaan itu pada suatu saat akan bermunculan bak virus dan merayap dan akan menjadi penyakit kronis.
Ahli kesehatan mengatakan mencegah itu lebih abdol (baik) dari pada mengobati.
Logikanya, kalau mengobati maka kita tinggal membeli saja obat di kedai atau tokoh obat. Tapi kalau mencegah maka pertanyaannya bisa panjang, karena ia perlu perencanaan yang matang.
Tapi mencegah adalah rumus satu-satunya untuk mendapat yang terbaik, karena virus tersebut belum terlihat atau masih kecil. Ini berbeda kalau sudah menjadi penyakit dan menyebar maka strategy pengobatan merupakan cara "terburuk", walau harus dilakukan juga.
Mengutif kalimat pembuka diatas, mengapa Kaltara perlu ada..? maka jawabannya ada di dada para pejuang berdirinya provinsi baru dengan nama Kaltara.
Ketika ada isu maka akan muncul komentar pro dan kontra alias ada yang setuju dan ada yang tidak. Yang pro dan kontra ini juga memiliki latar belakang yang berbeda terutama dalam sisi pemikiran dan berkomentar. Latar belakang yang memicu mereka melakukan sesuatu itu adalah mulai dari pendidikan, status sampai referensi (bahan bacaan ) masing–masing individu.
Nah… ibarat penyakit, maka yang kontra ini akan mengecam habis pasukan pejuang Kaltara dengan latar belakangnya tadi. Misalnya, apa guna Provinsi baru bila Otonomi Daerah sudah ada atau dengan berdirinya Provinsi baru maka kita akan mulai dari nol. Yang lebih parah ada yang kontra menelan habis isu yang pernah di lontarkan tahun 2004 itu, bahwa dengan Kaltara maka pembagian kue kebahagiaan (dana perimbangan ) akan menyusut.
Yang sempat "terpengaruh" dengan isu itu adalah Kabupaten Berau yang pada mulanya "mendukung" kemudian balik arah dan mengatakan mereka lebih focus membentuk Kab Baru. Padahal mau memekarkan daerah baru bisa sekarang atau bisa saat berdirinya Provinsi baru alias kapan saja. Apa lagi Kab Baru itu memiliki wilayah yang sangat luas, kalau loby-loby bagus dengan mengangkat tema-tema yang actual seperti kemiskinan dan percepatan bangunan wilayah perbatasan dan lain sebagainya, yakinlah para petinggi di Jakarta akan ambil peduli dan kemudian tinggal mematangkan perencanaan lanjutan.
Untung ada KTT atau kabupaten tana tidung, yang mengisi kekosongan yang ditinggalkan Berau. Hingga alasan pusat tentang belum terpenuhinya kuota standar yang telah ditetapkan dapat diketepikan, untung ada KTT.
Kembali ketopik, para pejuang baik yang muda–muda maupun yang senior harus mampu meredam isu yang sebentar lagi menjadi batu sandungan. Jangan terlalu percaya diri bahwa perjuangan Kaltara akan sukses berat. Optimis berlebihan tanpa dukungan perencanaan yang matang bisa berubah menjadi ke gagalan berat.
Ingat !!!!! menyatukan koor suara masyarakat yang beragam bukannya mudah, perlu kerja keras. Perjuangan Kaltara ini sudah lama sahabat..? mulai tahun 90 an keatas dengan cara menyebarkan isu (walau tidak terkoordinir dengan baik) sampai yang agak rapi (tahun 1990-2004) yang di dukung penuh oleh kepala daerah. Kita tidak mau perjuangan yang telah di bangun kembali dengan susah payah itu mentah lagi dan menjadi efisode lanjutan dari "kegagalan" atau paling tidak jadwalnya terus berubah dan kita tidak tau kapan Kaltara terbentuk.
Penyatuan langkah para pemuda di Tg Selor dalam rangka percepatan berdirinya Kaltara harus segera ditindak lanjuti dengan skema lanjutan. Mereka harus merencanakan sosialisasi terencana, baik di Media maupun terjun langsung ke masyarakat. Mereka harus menceritakan tentang kelebihan kaltara, bukan terpengaruh dengan isu dimana letak provinsi baru itu atau siapa yang jadi "bos"nya kelak. Ini malapetaka besar yang dapat merubuhkan sendi-sendi dasar persatuan yang sangat membutuhkan penguatan-penguatan untuk berdiri tegak.
Katakan kepada mereka bahwa bila Kaltara terbentuk maka akan terjadi hal yang positif, misalnya pengurusan dalam bentuk apapun akan menjadi mudah, pembangunan bisa optimal karena kedekatan wilayah, investasi langsung masuk ke Utara tidak lewat Samarinda, bantuan dalam bentuk apapun hanya di bagi 5 yakni, Tarakan, Bulungan, Nunukan, Malinau dan KTT, bukan dibagi 12 seperti yang lalu.
Dan masih banyak lagi hal positif yang harus di jadikan isu central agar, masyarakat tau, mengerti dan mau berubah serta mendukung berdirinya Kaltara. Silahkan dikaji lebih lanjut.
Isu positif yang mengetengahkan kelebihan tentang keberadaan Kaltara harus di susun dengan rapi atau semacam juklat dalam bersosialisasi. Kalau bisa, dijadikan buku pegangan untuk sebagai bahan dalam kegiatan apa saja.
Ketika isu local bisa di konter dengan baik maka selanjutnya bikin isu nasional yang baik dan terencana. Untuk tingkat nasional manfaatkan tokoh muda atau tua yang memiliki link yang baik dipusat. Jangan sembarangan orang yang dibajak untuk menjadi penanggung jawab dalam memenej propaganda dan publikasi untuk tingkat nasioanl karena bisa saja tokoh yang kita gandeng itu bagus di dalam kandang tapi di luar kandang "jeblok", Banyak musuhnya.
Tunjuk juru bicara ditiap daerah yang memiliki kompeten untuk bicara ke Media .Jangan semua bicara nanti justru menjadi boomerang.
Karena semuanya sudah tersusun dengan rapi maka endingnya kita serahkan kepada Allah, karena kita sudah berusaha semaksimal mungkin dan sangat terencana. Kalau berhasil maka itu hasil kerja sama, dan kalau tidak berhasil maka itu juga hasil kerja sama. Tidak ada yang merasa sangat berjasa bila endingnya bagus atau merasa bersalah bila endingnya buruk.
Ayo berjuang untuk Kaltara
Pengirim/Sumber Artikel : Husein Hendy / Pengamat Media
|