Maman adalah orang yang sibuk terutama di kantor, saking sibuknya, kegiatan bersosialisasi dengan lingkungannya sangat kecil. Yang parahnya moment berpapasan dengan warga di tempat tinggalnya saat turun kantor ia anggap sudah bersosialisasi. Serta permintaan sumbangan yang tidak pernah ia tolak ia anggap prilaku yang akan menawan masyarakat sekitarnya dan menganggap ia telah berbuat baik. Dan memang di kantornya ia termasuk orang yang “baik” kususnya teman-teman sekantor,tapi itu dikantor?.
Tapi dikampung? batang hidungnya baru dapat dilihat dengan agak lama bila ia mengundang warga setempatnya saat ada selamatan atau ulang tahun anaknya. Praktis diluar itu semua, Maman seperti orang gaib ,hanya dapat dilihat ketika turun dan pulang kantor.
Shalat Terawih saja dilakukan di Masjid yang paling jauh dari rumahnya dengan alasan jauh melangkah banyak pahala. Padahal di sekitar rumahnya ada Masjid dan Surau yang dapat dijadikan media untuk saling kenal dan saling akrab antara ia dan warga kampung.
Tapi dipikiran Maman lain lagi, yang penting itu ke Masjid dan salahkan orang lain yang tidak sholat. Itulah Maman, segala jenis alasan ia tarik untuk membenarkan tingkah lakunya yang agak menyimpang dari penglihatan dan penilaian warga di tempat tinggalnya.
Oke saya sedikit menyimpang dari cerita diatas, mari kita tengok tentang sekelompok pemuda yang tergabung dalam KNPI Se Kaltara yang tengah melakukan konsilidasi terkait masalah pendirian Provinsi baru dengan nama Kaltara atau Kalimantan Utara.
Pertemuan Di Tg Selor belum lama ini membangun kembali mimpi lama, mimpi yang sempat memicuk semangat heroik para pemuda tahun 1999 yang dengan gencarnya mensosialisasikan kaltara di pentas Nasional. Ismed Mado dan kawan–kawan baik dari Berau, Bulungan, Tarakan dan Nunukan melakukan Roud Show meloby petinggi daerah saat itu.
Demikian juga Sofwan Asnawi, wartawan Koran Harian Pembahruan Jakarta sekaligus Wakil Ketua PWI Kaltim mereka ajak mensosialisasikan kata KALTARA di mana saja mereka berada.
Hasilnya..? sangat bagus, pada saat itu kepala daerah menyambutnya dan ikut melemparkan isu Kaltara dalam berbagai kesempatan. Dan semangat itu juga yang memicu terbentuknya pertemuan kaltara yang sekaligus dijadikan media untuk berkoordinasi dan propaganda.
Pertanyaannya apakah pertemuan di Tg Selor itu mampu membangkitkan semangat para pemuda dan tokoh Senior se Utara seperti yang pernah terjadi ditahun 1999 -2004 (kalau tidak khilaf)
Dulu ada Ismet Mado yang sangat militan, saking militnya ia lupa kerja, lupa kawin (maaf) dan ada yang mengatakan saat itu kuliahnya tersendat-sendat hanya karena satu kata Kaltara. Ia juga termasuk yang “Tabal Muha” dalam arti positif tentunya. Bupati dan Walikota di Utara ini pasti kenal sosok tinggi kurus berkacamata tebal ini, karena sering didatangi untuk dimintai bantuan.
Tapi strategi brilyan para Pemuda saat perjuangan “hidup mati” pada tahun itu adalah mereka sangat paham arti propaganda. Bukan hanya teori dengan rumus–rumus rumit tapi mereka melaksanakannya dengan baik. Siapa yang tidak kenal Sofwan Asnawi ,salah satu tokoh penting dunia Jurnalis di Kaltim dan kedekatannya dengan pejabat daerah , Provinsi dan Pusat. Ismeth sangat jenius disini karena ia mengikat kuat Sofyan agar terus didalam lingkaran mereka .
Ia dan Sofyan bak kacang dengan kulit, selalu seiring, kemana saja, termasuk minta dana ke pejabat daerah dan saat membuat propaganda besar yang terencana dengan baik yakni Seminar pertama kali di luar Kaltim. Dibantu Mahasiswa asal Utara mereka membuat seminar yang sarat propaganda terencana tersebut di Malang. Banyak wartawan (cetak dan elektronik) yang datang saat itu, dan itu juga dikarenakan kepiawaian Sofwan Asnawi, sang Wakil Ketua PWI Kaltim yang sangat mendukung Utara pisah ranjang dengan Samarinda.
Pertanyaanya adalah? apakah Koalisi KNPI se-Utara Kaltim ini sudah merencanakanya dengan matang terkait masalah Kaltara? Membangun mimpi (semangat) yang sudah lama terkubur bukan hal yang kecil. Ia seperti membangun istana Bisnis yang kadung hancur atau bangkrut karena salah menejemen atau apa saja namanya.
Koalisi KNPI se Utara kaltim jangan terjebak dengan cerita tokoh Maman diatas yang merasa berbuat sesuatu tetapi ternyata masyarakat menilainya lain. Semangat dan Optimis terhadap kerja sangat penting (100X) karena ia pemicu untuk berbuat sesuatu secara konstan.
Tapi semengat tersebut harus di balut dengan strategy yang matang dan terencana .Saya ingat kata Sofyan Asnawi, waktu itu di jembatan SDF saat ia dan Ismeth hendak ke Tg Selor. Katanya saat itu kepada saya (penulis) kalau mau berhasil, gerakan kepala daerah dan buat mereka merasa menjadi penggerak utama aktivitas kepemudaan dan pemuda jangan terlalu ditonjolkan. Serta Media sangat penting, katanya, tanpa mereka, strategy sosialisasi akan berjalan tersendat. Makanya jangan heran, Sofyan saat itu selalu memompa semangat semua pihak dengan tulisan-tulisanya baik di Media local maupun Nasional.
Mengutif kata-kata sang Jurnalis senior ini, maka sudah sepatutnya koalisi KNPI se Utara dalam memperjuangakan titik final dari perjuangan pemuda diakhir tahun 90 an itu mengingat wejenangan Sofyan Asnawi ini.
1.Libatkan PENUH TOKOH DAERAH/PEMIMPIN DAERAH
2.Libatkan penuh unsur Jurnalis kalau bisa tokohnya yang memiliki keistmewaan kusus terutama saat membuat link-link secara Vertikal dan horizontal.
Propaganda ini harus dimenej dengan baik dan jangan menggunakan menejemen reaktif, harus terencana dan terukur.
Ciri-ciri menejemen reaktif ini dapat dilihat ketika mereka menyebarkan isu di media, teras sekali kesimpang siuran informasi dan kadang bisa jadi memicu sikap kontra masyarakat..Berbeda dengan yang terencana, maka pencitraan positifnya sangat menonjol mulai dari awal sampai akhir mengarah ke satu tujuan sebagai target sasaran.
Ahli strategi propaganda sangat dibutuhkan sekumpulan pemuda–pemuda pejuang ini untuk mengangkat ,manjaga dan mengawal semangat dan emosi agar terkendali dan berjalan stabil.Jangan jadi seperti Tokoh Maman diatas, yang hanya melakukan sesuatu berdasarkan perasaannya saja. Ia harus direncanakan, dimatangkan dan kemudian dilakukan agar segera sampai ketujuan.
Pengirim/Sumber Artikel : Husein Hendy / pengamat Media
|